Jumat, 29 April 2011

PERI KECIL YANG NENANTI KEMATIAN

PERI KECIL YANG MENANTI KEMATIAN

Darah……
Zat cair berwarna merah yang hampir tiap hari aku lihat mengalir dari hidung mungil ku. Aku tak tahu kapan tepatnya aku mulai mengalami hal itu,,yang aku ingat hanya 3 tahun lalu tepat saat aku berusia 16 tahun dan mulai menduduki bangku SMA.

Pagi itu….
Seperti biasa aku mulai melangkahkan kaki dari kamar mungil ku yang dicat sesuai dengan warna kesukaan ku “Pink”,,perlahan aku menghampiri papa yang tengah asyik menyantap sarapan paginya di meja makan. “Pa,,ayo berangkat….”sapa ku dengan suara lembut kepada papa. “Lan tunggu,,,sarapan dulu??”jawab papa. “Lan udah kesiangan pa,,ntar aja Lan sarapan di sekolah”jawab ku sambil berlalu ke mobil yang telah diparkir papa di depan rumah. Yach,,,aku memang tiap hari di antar oleh papa,,bahkan papa g’ pernah mau mengizinkan aku naik angkutan umum seperti teman-temanku yang lain karena kondisi ku yang seperti itu. Aku akui,,aku pun terkadang malu karena banyak teman-teman yang mengecapku sebagai anak manja.

Hm……
Sebelumnya perkenalkan,,nama ku “ZULAIKA CINTAMI PUTRI” tapi orang-orang biasa memanggil ku dengan sebutan “LAN” karena waktu kecil dulu aku hanya bisa menyebut ‘Lan” ketika ditanya namaku siapa. Aku anak bungsu dari 2 bersaudara,,kakak laki-laki ku sekarang duduk di kelas 2 SMK,,sedangkan aku duduk di kelas 1 SMA. Aku sangat dimanja oleh keluarga ku,,bah kan aku diperlakukan seperti putri yang ada dalam dongeng anak-anak.

“Hm,,,masih dianterin juga non??”langkah ku tertegun mendengar suara itu,,,suara yang sangat aku kenal,,suara dari sahabat dekatku TINA. “seperti biasa Tin..”jawab ku dengan nada lemas. Ntah pa yang ada dipikiran ku pagi itu,,sepanjang perjalanan ke kelas pikiran ku melayang ntah kemana,,sampai akhir nya Tina mengaget kan ku “woooy non,,,pagi-pagi koq udah ngelamun?? Mikirin apa sih???” aku hanya tersenyum melihat ke arah Tina tanpa menjawab 1 patah kata pun dari pertanyaan Tina.

Bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi,,semua murid berhamburan keluar tak terkecuali aku dan Tina yang mencoba berlalu dari keramaian anak-anak. Di luar pagar sudah terlihat cowok dengan wajah sok imut nya melambaikan tangan ke arah ku. Cowok itu bernama “DIMAS EKO PRATAMA” yang tak lain adalah kakak ku sendiri. “aku duluan ya Tin,,tuh kakak ku udah nunggu”pamit ku kepada Tina sambil terus berlalu meninggal kan Tina dan 1 sahabat ku lagi “SASHA”. “gimana di sekolah tadi Lan??? G’ da yang gangguin kamu kan???” Tanya kakak ku. Memang begitulah kakak ku,,selalu bertanya tentang apa saja yang terjadi dengan ku di sekolah dan di tempat bermain ku,,bah kan menurut ku dia udah seperti pengawal pribadi ku yang selalu siap untuk ku kapan pun aku butuh kan.

Minggu pagi yang cerah,,aku dan kakak ku Dimas tengah asyik mengemas barang-barang untuk berenang seperti hal yang rutin kami lakukan setiap minggu nya. Tiba-tiba aku merasakan sakit yang tak terkira pada kepala ku dan tanpa aku sadari darah mengalir lagi dri hidung ku,,aku menjerit histeris,,tentu saja kakak ku Dimas yang dari tadi bersama ku ikut menyaksikan kesakitan ku dan dia berteriak memanggil papa dan mama. “Lan,,kamu kenapa sayang???”sayup-sayup ku dengar suara lembut mama yang bercampur dengan isak tangis. Dan setelah itu aku pun tak sadar apa-apa lagi.

Perlahan mata ku terbuka,,samar-samar ku lihat mama,papa dan k’ Dimas menatap ku dengan cemas. Aku mencoba bangun dari kasur tempat ku berbaring tapi k’ Dimas menahan ku “istirahat dulu Lan,,jangan banyak bergerak” aku pun mengikuti perintah k’ Dimas karena aku juga masih merasakan rasa sakit yang teramat sangat di kepala ku. Tak lama kemudian laki-laki dengan mengenakan baju putih dan menyandang stetoskop di leher nya menghampiri ku,tanpa di komando dan seperti telah ada yang memberi perintah,papa,mama dan k’ Dimas bergeser menjauhi ku membiarkan laki-laki itu mulai memeriksa ku dengan tangan nya yang dingin. “Pak,Bu’,,mari ikut keruangan saya,,ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan bapak dan ibu mengenai kondisi anak bapak dan ibu”. Papa dan mama pun berjalan mengikuti langkah laki-laki itu dan meninggalkan aku dan k’ Dimas berdua di ruangann ini.

Sudah 3 hari aku di rawat di rumah sakit dan saat yang aku nantikan pun tiba,,hari ini aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Tampak mama dan k’ Dimas sibuk mengemasi barang-barang ku sedangkan papa asyik berbincang-bincang dengan dokter yang merawat ku kemarin. Ntah apa yang dibicarakan papa dengan dokter itu tapi seperti nya pembicaraan mereka sangat serius,,itu terlihat dari raut wajah tampan papa yang sudah mulai terlihat kerutan karena usia nya. Tak lama kemudian,,k’ Dimas membawa ku keluar dari ruangan tempat aku di rawat. Baru saja k’ Dimas mendorong kursi roda yang aku naiki keluar dari pintu kamar,,tiba-tiba dia berbisik ke telinga ku dengan lembut dan penuh kasih sayang,,jarinya menunjuk ke arah sesuatu “Lan lihat,,ada pelangi di sana” aku pun mengikuti arah yang ditunjukkan oleh k’ Dimas. "pelanginya bagus ya k’,,seperti kakak” kata ku dengan nada manja ke arah k’ Dimas,,ku lihat wajah tampannya tersenyum kearah ku kemudian mencubit hidung ku dengan manja. Aku memang sering mengibaratkan k’ Dimas seperti pelangi karena wajah tampannya yang selalu bersinar dan memberi warna di hari-hari ku. Dan karena wajah tampannya itu juga banyak cewek-cewek yang berlomba mendekatinya.

Hari itu,,aku dan k’ Dimas pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di kota kami. “Kakak ke toilet dulu Lan,,jangan kemana-mana ya cantik” k’ Dimas berlalu meninggalkan aku sendiri di tengah keramaian. Dan,,,,,,”aduch” kata ku mengerang kesakitan. Seorang cowok yang kira-kira sebaya k’ Dimas tanpa sengaja menyenggol bahu ku “maaf..gue g’ sengaja” katanya dengan nada yang agak menyesal,,”iya,,g’ apa-apa koq”. “eh,,Nando,,,,ngapain kamu di sini??” tiba-tiba k’ Dimas muncul dan menyapa cowok itu. “hm….Cuma jalan-jalan aja koq,,lo ngapain di sini?? Btw…..ini siapa???” Tanya cowok itu ke k’ Dimas sambil melirik ke arah ku. “ni,,lagi ngajakin si peri kecil ini jalan-jalan…..o iya,,kenalin ini adik gue Zulaika tapi biasa dipanggil Lan... Lan kenalin ini teman sekelas kakak namanya Nando” cowok itu menyodorkan tangannya kepadaku dan aku pun menyambut tangannya.

Malam yang penuh dengan bintang,,aku duduk sendiri di halaman rumah,,tepat nya di pondokan yang sengaja dibuatkan papa untuk ku karena papa tahu aku sering duduk di halaman melihat bintang di langit saat malam mulai datang. Ingatan ku tertuju saat aku berkenalan dengan Nando tadi siang,,ku akui wajah nya memang tampan tapi tetap saja tak setampan k’ Dimas dan papa,,dua Laki-laki yang menjadi pelindung ku. “hayoo,,,peri kecil kakak lagi ngelamunin apa siy???” sontak saja suara k’ Dimas mengbuyarkan semua lamunan ku tentang Nando. “k’….Nando ganteng juga ya….”kata ku ke k’ Dimas sambil terus menatap bintang. “hmm,,,kayaknya ada yang lagi jatuh cinta pada pandangan pertama niy” goda k’ Dimas. “kakak apa-apaan siy??” jawab ku manja sambil mencubit perut k’ Dimas kemudian bersandar di bahunya dengan manja. Kami berdua hanyut memandangi cahaya bintang yang berkerlap-kerlip di langit. “Lan……kakak sayang banget sama Lan,,kakak akan jagain Lan trus sepanjang hidup kakak,,jika suatu saat nanti kakak udah g’ da lagi di samping Lan dan ketika saat itu juga Lan rindu dan butuh kakak,,Lan pergi aja ke sini,,ke tempat dimana kita duduk sekarang,,dan lihat ke arah bintang-bintang,,lihat 1 di antara bintang yang bersinar,,bintang itu adalah kakak…Apapun yang terjadi Lan tetap peri kecil kakak….Lan…..jangan pernah menyerah dengan apa yang akan Lan hadapi nanti,,tetap tersenyum peri kecil kakak………..”. “kakak ngomong apa siy??” Tanya ku ke k’ Dimas dengan nada yang agak menekan,,tanpa aku sadari air mata ku perlahan mulai menetes membasahi bahu k’ Dimas. Menyadari hal itu,,k’ Dimas langsung mangangkat dagu kecil ku dan mengusap air mata yang mengalir di pipi ku dengan penuh kasih. “jangan nangis sayang,,peri kecil kakak g’ boleh nangis,,harus selalu tersenyum untuk kakak…..” tambah k’ Dimas sambil tersenyum lembut,,senyum yang membuat hati ku luluh.

Hari ini aku kembali ke sekolah seperti biasa. Saat jam pelajaran pertama sudah mulai di mulai,,tiba-tiba dari pengeras suara di ruang guru terdengar panggilan “Zulaika Cintami Putri harap ke ruangan guru sekarang,,ada keluarga nya yang menunggu”. Dengan langkah perlahan aku berjalan ke ruang guru dan dalam pikiran ku terus bertanya-tanya ada perlu apa keluarga ku ke sekolah???. Di ruang guru terlihat sosok pria paruh baya menatap ku dengan wajah sedih,,dia adalah OM HAMDI adik ke-3 papa. Om Hamdi langsung memeluk ku sambil meneteskan air mata,,tentu saja aku semakin heran dan penuh tanya,,ada apa ini sebernanya???.

Om Hamdi membawa ku pulang,,aku tertegun seakan tak percaya dengan apa yang aku saksikan saat niy,,darah ku seakan berhenti mengalir dan nafas ku terhenti sejenak. Ku pandanngi bendara kuning yang berkibar di depan halaman rumah ku,,seakan tak ingin lagi dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan  yang membuat ku bertambah bingung,,aku berlari menerobos banyak orang yang ada di depan ku,,dan…………….. tubuh ku seakan tak berdaya,,rasa nya tulang benulang ku remuk dan hancur ketika ku lihat sesosok laki-laki yang terbaring kaku d selimuti oleh sehelai kain panjang. Kak Dimas,,,ya laki-laki itu k’ Dimas…kakak yang selama ini selalu menjaga ku dengan penuh kasih,,,kini dia telah tiada. “mama,,,ini bukan kakak kan ma??? Kakak masih hidup kan ma??? Lan tahu,,ini bukan kakak kan????” Tanya ku pada mama yang menangis di samping sosok kaku itu. “ma,,,jawab Lan!!! Ini bukan kakak kan???” kali ini aku bertanya dengan nada yang keras,,nada yang sama sekali tidak pernah aku gunakan ketika berbicara dengan mama dan orang yang lebih tua dari ku. “Lan,,sabar ya sayang,,kakak udah g’ mau lagi bersama kita,,,kakak udah tenang Lan” bisik mama ke telinga ku dengan lembut dan terisak. Ku pandangi papa yang duduk di samping mama “ini bukan kakak kan pa??” air mata semakin mengalir deras di pipi ku dan berharap papa bilang kalau itu bukan k’ Dimas tapi papa hanya tertunduk dan mengusap air mata nya.

Malam itu,,setelah mengadakan tahlilan untuk k’ Dimas,,aku duduk tepat d tempat terakhir aku bersandar di bahu k; Dimas,,ku pandangi langit yang gelap,,tampak 1 bintang yang bersinar. Air mata ku pun menetes,,”kakak,,,Lan kangen kakak..”. Tiba-tiba om Hamdi menghampiriku. “Lan,,,om tahu Lan sedih dan mungkin g’ bisa nerima kenyataan ini tapi Lan g’ boleh sedih gini,,kalau Lan terus-terusan sedih,,kan kasihan sama kakak,,dia jadi g’ tenang di sana..”. Aku tertegun mendengar kata-kata om Hamdi “tapi Lan sayang sama kakak Om,,Lan g’ mau pisah dengan kakak”. Om Hamdi mengusap kepala ku dengan lembut “kalau Lan sayang sama kakak,,Lan do’ain kakak,,bukan malah terus-terusan nangis gini” tambahnya. Lalu om Hamdi menarik tangan ku dengan lembut masuk ke dalam rumah.
“Lan,,koq belum tidur sayang???” Tanya nenek yang tiba-tiba masuk ke kamar ku,,ku hapus air mata yang mengalir di pipi ku,,aku g’ pengen nenek melihat ku menangis. “belum ngantuk nek” jawab ku dengan manja dan merangkul tubuh nenek yang telah mulai renta. Ku coba untuk terus membendung air mata agar tak menetes ketika di pangkuan nenek tapi aku tak sanggup lagi menahannya,,butiran-butiran crystal itu pun menetes satu persatu dari mata ku. “nek,,ceritain ke Lan ya,,kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi sama kakak”. Nenek menatap ku denagn matanya yang sendu,,”tapi Lan harus janji ya g’ boleh nangis kalau nenek cerita…”. “iya nek” jawab ku singkat. Nenek pun memulai ceritanya. Tadi pagi,,seperti biasa k’ Dimas akn berangkat ke sekolah dengan mengndarai motor nya,,k’ Dimas memang selalu mengedarai motor ke sekolah beda dengan aku yang selalu di antar papa dengan mobil pribadinya. Ntah kenapa tadi pagi saat berangkat k’ Dimas lupa memakai helm,,ketika hendak pulang dan berbalik arah untuk menjmput helm dari arah berlawanan sebuah mobil carry biru melaju dengan kecang dan akhir nya menghantam k’ Dimas,,k’ Dimas tewas saat di jalan menuju rumah sakit. Air mata ku semakin tak tertahankan,,aku kembali merasakan sakit yang luar biasa di kepala ku dan kemudian aku tak sadarkan diri lagi.

Hari ini,,teman-teman 1 kelas k’ Dimas datang berkunjung ke rumah. Mama dan papa menyanbut mereka dengan senyuman yang aku tahu kalau senyuman itu sangat dipaksakan oleh papa  dan mama,ini terlihat dari raut wajah mereka yang penuuh dengan kesedihan. Sementara aku hanya memndang mereka dari blik jendala dari kamar yang bisa dikatakaan salah satu tempat favorit ku di rumah. “Lan,,kamu di dalam sayang?? Buka pintu nya,,ayo keluar temui teman-teman kakak” terdengar suara nenek dari balik pintu kamar. Dengan malas dan menunduk aku pun berjalan menuju kearah mama dan langsung mengambil posisi di sampingnya,ku tahu banyak mata dari teman k’ Dimas menatap ku dengan kagum,,mungkin karena wajah manis ku yang juga di dukung oleh postur tubuh yang semampai. “ini adik Dimas satu-satu nya…Lan,,ayo angkat kepalanya,,jangan terus menunduk seperti itu” kata mama. Aku mengangkat kepala ku menatap ke seluruh orang yang ada di sana dan ku rasakan tetesan bening itu mengalir di mata ku lagi. “gue turut berduka cita Lan” bisik cowok yang duduk di sebelah ku,,aku menoleh dan ku lihat Nando teman yang pernah dikenalkan k’ Dimas kepadaku,,ku berikan senyum termanis ku untuk Nando walaupun dengan sangat terpaksa.

Sejak itu aku dan Nando menjadi akrab dan kami pun akhirnya berpacaran. Bersama Nando aku bisa merasakan kebahagiaan yang hilang setelah kepergian k’ Dimas,aku menemukan sosok lain dari kakak ku dalam diri Nando. Aku merasakan sayang yang teramat sangat kepada Nando,,mungkin karena sikap Nando yang hampir sama dengan k’ Dimas. Walau kadang Nando sering membuat ku jengkel dan benci terhadap nya tapi itu semua tak mengurangi rasa cinta ku kepadanya.
Tuhan memberikan kami banyak cobaan. Setelah dia mengambil k’ Dimas dari kami sekarang giliran ku yang harus menerima kenyataan pahit tentang kondisi ku yang sebenarnya. Semua itu berawal dari ketika aku tanpa sengaja mendengar pembicaraan papa dengan dokter Yanto,,dokter yang selama ini merawat ku. “Brain canker atau biasa kita kenal dengan kanker otak adalah sekumpulan massa sel-sel otak yang tumbuh abnormal, di luar kendali. Sebagian besar kanker otak dapat menyebar melalui jaringan otak dan jarang menyebar kebagiaan tubuh yang lain. Yang menjadi masalah adalah apakah kanker pada otak Zulaika bisa diangkat dan tidak akan kambuh lagi?? Sekarang kita hanya menunggu waktu,,Lan bisa bertahan selama 5 tahun ke depan.” jelas dokter Yanto kepada papa. Mendengar penjelasan dari dokter,,aku pun menangis dan muntah menyembur dengan tiba-tiba dan seperti biasa kepala ku pusing kemudian jatuh pingsan.

Aku membuka mata ku,,ku pandangi di sekeliling ruangan itu,,ruangan yang aku sudah hafal sekali bentuk nya ‘Rumah Sakit’,,untuk kesekian kali nya aku berada di ruangin ini. Ku lihat mama menangis di samping ku “ma,,kenapa mama g’ pernah cerita sama Lan tentang kondisi Lan yang sebenarnya?? Kenapa selama ini mama bohong sama Lan?? Kenapa setiap Lan tannya tentang penyakit Lan mama hanya bilang kalau Lan cuma kecape’an aja?? Kenapa ma??? Kenapa???” aku menghujami mama denga banyak pertanyaan dan tak membiarkan mama untuk menjelaskan tentang semuanya. “sayang,,,maafin mama,papa dan k’ Dimas ya,,kami semua sengaja merahasiakan semua ini karena kami g’ ingin peri kecil kami yang selalu ceria berubah jadi peri kecil yang murung….” Lalu mama memeluk tubuh ku dengan erat dan hangat.

Setelah kondisi ku pulih,,Nando bertamu ke rumah ku dan aku memceritakan semua kondisi ku kepada Nando “Lan tahu ini pasti berat buat sayang,,kalau sayang mau ninggalin Lan,,Lan siap koq,,Lan tahu,,emang g’ mudah merima keadaan Lan yang seperti ini.” Jelas ku kepada Nando. Nando meraih tangan ku dan menggengamnya dengan erat “sayang,,aku siap merima sayang dalm kondisi apa pun,,aku g’ akan ninggalin sayang” jawab Nando lembut. Jawaban Nando membuat ku senang,,tentu saja kesenangan yang di campur rasa was-was karena menunggu saat kematian ku.

Memasuki tahun ke-2 setelah aku difonis oleh dokter. Aku kembali mengalami guncangan hebat dalam jiwa ku. Nando, orang yang selama ini aku sayangi ternyata menduakan aku dan lebih memilih meninggalkan aku demi pacar barunya. Semua kisah itu berawal ketika aku lulus SMA dan melanjutkan kuliah ku di jurusan ‘Keperawatan’ di salah satu perguruan tinngi ternama tak jauh dari kota kecil dimana aku dilahirkan,sedangkan Nando tetap tinggal di kota kecil ku. Awal nya tak ada sikap aneh dengan Nando tapi setelah 4 bulan aku jauh dari nya,,sikap nya benar-benar berubah menjadi dingin dan cuek terhadapku. Tentu saja sikapnya ini membuat ku bertanya-tanya dan berusaha mencari tahu apa alasan Nando bersikap seperti itu terhadapku. Pertanyaan ku pun terjawab ketika suatu hari terdengar deringan di hp ku,,nomor baru,,ku tekan tombol hijau di hp ku dan terdengar suara seorang cewek dari sebrang sana “ini Lan y,,tolong ya jangan ganggu Nando lagi,,dia itu pacar ku,,kami udah 2 bulan pacaran dan Nando sangat menyayangi ku” jelas cewek dari seberang dengan nada marah dan langsung menutup telponnya.
Setelah mendengar penjelasan dari Nando dan pacar baru nya,,aku pun bertekad tak akan pernah ingin mengenal lagi yang nama nya cinta karena sakit yang ditimbulkan oleh Nando. Hari-hari ku habiskan untuk kuliah dan jalan dengan sahabat terbaikku di kampus ‘Pita’. Pita selalu menghibur ku ketika aku menangis ketika teringat dengan Nando,,aku pun selalu bersikap manja kepada kepada Pita,,bah kan Pita juga yang sering menemani ku ketika aku jatuh pingsan. Melihat sikap ku yang manja dan sering jatuh pingsan,,suatu hari Pita menberanikan diri bertanya kepada ku “Lan,,sebenarnya lo sakit apa siy??” aku hanya tersenyum menatap Pita “g’ apa-apa koq Pit,,Cuma kecape’an ja mungkin”.

Sekarang telah memasuki tahun ke-3. Semakin hari aku rasakan kondisi ku yang semakin parah,,aku hanya bisa tergantung dengan berbagai jenis obat yang diberikan dokter untuk ku. Belum lagi rasa sakit karena pengkhiatan Nando yang masih terasa hingga saat ini hingga aku tak pernah ingin kenal lagi dengan cinta.

Keteguhan hatiku untuk tak mengenal cinta pun sirna ketika di kampus ku mengadakan kuliah bersama di balairung. Mata ku menatap tak berkedip ke arah cowok yang duduk di samping ku. Sungguh ciptaan Tuhan yang manis,,terpesona aku melihatnya. Kekaguman ku semakin bertambah ketika dia berdiri di depan dan membacakan do’a,,sungguh sosok yang sempurna walau pun aku tahu tak ada manusia yang sempurna. “Pit,,siapa sich cowok yang di samping kita ini??” Tanya ku pada Pita setelah pembacaan do’a. “itu k’ RINO FERDINANSYAH kakak tingkat kita,,kenapa?? Lo suka y???” jawab
Pita sambil menggodaku. Aku hanya tersipu malu memdengar jawaban Pita.

RINO FERDINANSYAH,,aku coba menetik nama itu di pencarian facebook ku kemudian aku add menjadi teman ku. Setelah itu kedekatan ku dengan k’ Rino semakin bertambah,,sampai suatu hari ketika aku mengajak nya nonton,,jantung ku berdebar kencang tak menentu,,oh tidak…,aku tak ingin menyebut kata itu tapi tak bisa aku pungkiri bahwa aku ‘jatuh cinta’ dengan dia. Debaran itu pun semakin kencang saat dia menggenggan tangan ku.

Kedekatan ku dengan k’ Rino semakin membuat ku ingin memilikinya dan menjadikannya lebih dari sekedar teman biasa. Rasa di hati ku semakin bergejolak meronta memanggil namanya. Hingga aku memberanikan diri untuk mengutarakan isi hati ku. Langit seakan runduh menimpa tubuh ku saat ku dengar ternyata k’ Rino telah punya kekasih. Hati ku menjerit pilu,,kenapa aku harus merasakan sakit lagi oleh kata CINTA,,kata yang seharusnya tak pernah aku ucapkan kepada k’ Rino. “mungkin rasa itu akan tumbuh seiring dengan berjalan nya waktu” hanya itu yang di ucapkan k’ Rino saat melihat air mata yang mengalir di pipi ku.

Aku mencoba menepis semua rasa yang ada untuk k’ Rino tapi semakin aku mencoba,,aku rasakan sakit yang teramat sangat dalam hati ku. Aku masih menginginkan k’ Rino. Aku hanya ingin dia sesaat tuk temani sisa hidup yang yag mungkin tinggal beberapa tahun lagi tapi semua harapan itu hancur seperti kehancuran ketika aku kehilangan k’ Dimas,,kehancuran ketika aku kehilangan Nando dan kehancuran seperti tubuh ku yang terus di derogoti oleh kanker.

Kini hanya tinggal kesedihan yang tak terkira dalam hati ku dan rasa sakit akibat kanker yang ada di otak ku,,tinggal menunggu waktu kapan kanker ini akan mengambil nyawa ku,,mungkin 2 tahun lagi seperti yang diungkapkan dokter Yanto atau mungkin mungkin besok pagi. Ntah lah,,yang jelas cepat atau lambat kanker ini akan mengambil nyawaku. Hanya 1 harapan ku k’ Rino bisa bilang sayang kepadaku sebelum Tuhan mengambil nyawa ku kembali dan bertemu dengan k’ Dimas,,tapi tentu saja harapan ku yang paling besar adalah menyandanng gelar sarjana keperawatan seperti yang diimpikan mama dan papa sebelum aku kembali kepangkuan nya. Aku bukan lagi peri kecil yang selalu tersenyum tapi kini aku adalah ‘PERI KECIL YANG MENANTI KEMATIAN’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar